Minggu, 23 Oktober 2016

Products Gadgets most sophisticated in the Party Electronics Europe

Electronics exhibition IFA event in Germany so the stage to show off the large technology vendors. They are competing to attract attention with a brand-new product is accompanied by a variety of sophistication.
These include gadgets predicted he would become a popular product when marketed later.

Asus ROG Tytan CG8890




ROG Tytan is a computer that will most likely be the desire of gamers. Specifications are indeed powerful, equipped with an Intel Core i7-3960 six cores with speeds up to 4,2GHz. While the graphics sector is handled by Nvidia GeForce GTX 690 graphics card that included the fastest 3D.

His form was frightening, actually illustrates the toughness of a gaming machine. In the sector of premium monitors also categorized by the panel IPS (In Panel Switching). The price is not yet announced, but it is definitely expensive for most people's pockets.

90-inch Sharp Aquos LED TV



Many television products exhibited at IFA arena. One of the most attention is the giant television made by Sharp, the Aquos LED TV 90 inch size that offers a brilliant picture. This product is one of the largest LED television from IFA arena.

Indeed there is no 4K or 8K futuristic technology in this television, but the picture quality still can not be underestimated. He was wearing a 1080p resolution panel. The price alone reached USD 11 thousand, or in the range of USD 100 million.

Samsung Galaxy Note II



From all products introduced Samsung at IFA arena, perhaps the main star is the Galaxy Note II. Dsengan smartphone operating system Android Jelly Bean is expected to follow the successful first version of the Galaxy Note has sold millions of units, although initially many were skeptical.

Significant improvement was made in the Samsung Note II. With a wider screen and S Pen stylus functionality of increasingly sophisticated to help the productivity of its users. Additionally, jeroannya fairly grim with a 1.6 GHz quad-core processor and 2GB of RAM. While measuring 3,200 mAh battery.


Is this the future era of the camera? Can be. Samsung introduced the Galaxy Camera, a 16 megapixel resolution camera with the power ala Android handset. Yes, the Galaxy Camera using the Android OS Jelly Bean that can be enabled entirely through the touch screen measuring 4.8 inch.

With full connectivity WI Fi, 3G and 4G, photo sharing activity through the Galaxy Camera ascertained to be easy and fast. Arguably, this camera can perform all the functions of Android smartphones except make phone calls.

Samsung Ativ S



Samsung stole the attention with the release of some of the gadgets, including Ativ S using the operating system Windows Phone 8. Previously, Nokia predicted launch its Windows Phone 8 first, but lost the start of Samsung.

Specifications Ativ S is high enough for the size of the Windows Phone. For example a 1.5 GHz dual core processor, and a 4.8 inch screen Super AMOLED technology.

Sony Xperia T



Xperia T is Sony's latest mobile phones that entered the ranks of high end. It has a 4.6 inch landscape display resolution of 1280 x 760 Reality display with Sony's unique technology. A powerful 13 megapixel camera, one of the highest among a row of other Android phones.

Unfortunately, the processor is still dual core 1.5 GHz. In fact, the competitors have released a mobile phone with quad-core processors are widely claimed to be more powerful.

Sony Vaio Tap 20



These gadgets try to combine Windows 8 tablet PC with a PC all in one. Yes, back there is a kind of stand that is innovative enough to set up the tablet on the table. Its own 20-inch size that was quite relieved to see the multimedia content and other functions.

The specification itself quite capable. Among others, by the presence of an Intel Core i5-2217U processor and a hard drive with 1TB capacity.

Label:

Senin, 10 Oktober 2016

Penemu Baterai ? Ini Sejarahnya

Penemuan ini berawal ketika sebuah silinder tembaga diletakkan di tengah-tengah batang besi dalam larutan yang tidak diketahui. Larutan ini belakangan disebut elektrolit dan peristiwanya dikenal sebagai ionisasi larutan elektrolit (Monk, 2004) di baghdad-irak

di Baghdad merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuwan maupun arkeolog. Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Baghdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog yang melakukan penggalian di sana menemukan sebuah artifak yang diduga merupakan satu set baterai kimia yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih (Jenstea, 2010).

serta aspal yang disusun sedemikian rupa dalam sebuah jambangan kecil (tinggi 14 cm dan diameter 8 cm) yang terbuat dari tanah liat. Setelah para ahli mereka ulang, ternyata memang benar didapati bahwa artifak tersebut merupakan sebuah baterai elektrik kuno. Para peneliti berhasil memperoleh tegangan sebesar 1,5 volt dari artifak batu baterai elektrik tersebut, yang bekerja nonstop selama 18 hari dengan cara memasukkan cairan asam ke dalam jambangannya, misalnya air jeruk (sunkist atau lemon lebih bagus), H2SO4, serta semua larutan golongan elektrolit (Jenstea, 2010).

Penemu Baterai :
Alessandro Volta, seorang fisikawan Italia, adalah orang pertama yang menemukan baterai pada tahun 1800. Volta juga membuat penemuan penting lain dalam bidang pneumatik, serta meteorologi dan elektrostatika. Alessandro Volta lahir di Como, Italia, dan pada usia 29 tahun menjadi profesor fisika di Royal School di kota kelahirannya.

Pada tahun 1774, Volta menemukan electrophorus atau sebuah perangkat yang bisa menghasilkan listrik statis. Setelah 5 tahun di Royal School, Alessandro Volta dipanggil untuk menjadi profesor di University of Pavia pada tahun 1779. Di tempat tersebut, dia menemukan “tumpukan volta”, metode praktis pertama untuk memproduksi listrik.

Tumpukan volta dibuat dengan menumpuk piringan tembaga dan cakram seng secara berselingan dengan potongan karton yang dicelupkan dalam air garam ditempatkan di antara kedua piringan tersebut. Tumpukan tersebut mampu menghasilkan arus listrik. Penemuan ini diakui sebagai baterai pertama yang menghasilkan arus listrik secara konsisten dan dapat diandalkan.

Luigi Galvani, yang hidup sezaman dengan Alessandro Volta, sebelumnya mengajukan teori galvanik yang menyatakan bahwa jaringan hewan memiliki beberapa bentuk listrik di dalamnya. Sebagai bentuk sangkalan terhadap teori Galvani, Alessandro Volta menunjukkan bahwa listrik dihasilkan ketika logam yang berbeda seperti kuningan dan besi kontak satu sama lain dalam suasana lembab, dan tidak melalui jaringan hewan.
 
Lithium-Polymer (Li-Po) merupakan pengembangan dari Li-Ion, yang mulai digunakan untuk perangkat elektronik sejak tahun 1996. Biaya pembuatan Li-Po lebih murah dibandingkan Li-Ion, dan lebih tahan terhadap kerusakan fisik. Kapasitas penyimpanan energi Li-Po 20% lebih tinggi dibanding Li-Ion, 300% lebih tinggi dibandingkan daya simpan NiCad dan NiMH. Tetapi karena produksinya belum sebanyak baterai Li-Ion, harga jual dari baterai yang satu ini masih lebih mahal (Bataviase, 2010).
 
Baterai Nickel Cadmium (Ni-Cad) yang merupakan baterai yang dibuat dari campuran Nikel dan Cadmium, diproduksi pertama kali setelah penemuan artifak batu baterai di Baghdad yang membuat perhatian dunia tertuju ke arah penelitian tentang pembuatan dan pengembangan baterai yakni pada tahun 1946. Namun memiliki kekurangan yakni ada pada biaya pembuatan yang mahal, kapasitas berkurang jika baterai tidak dikosongkan (memory effect), dan tidak ramah lingkungan (beracun). Kemudian pada tahun 1980, baterai Nickel Metal Hydride (NiMH) dikembangkan dengan kapasitas lebih besar dan tidak menggunakan senyawa kimia yang berbahaya bagi lingkungan. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, baterai ini dianggap kurang mampu menangani perangkat eletronik yang baru. Pada perkembangan selanjutnya adalah baterai Lithium-Ion yang ditemukan pertama kali tahun 1960 di Bell Labs. Baterai ini paling banyak digunakan untuk perangkat elektronik karena rasio energi dan berat paling baik, tanpa memory effect (bisa diisi ulang kapan saja), bentuk sangat fleksibel, ringan, dan kehilangan daya saat digunakan paling kecil. Namun sayangnya, kekurangan dari baterai ini adalah umur pakainya tergantung dari lama pembuatan dan seringnya frekuensi isi ulang. Maka dari itu, muncullah baterai Lithium-Polymer (Bataviase, 2010).

Label: ,